Kehidupan Fatimah Az Zahra
Hampir tidak mungkin kita bisa menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Fatimah Az Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW ini.
Setiap kita membayangkan suatu kemuliaan yang mungkin bisa kita
ungkapkan untuk menggambarkan kemuliaan atau kebesarannya maka terbesit
dalam hati kita keraguan bahwa apa yang kita bayangkan itu masih terlalu
kecil untuk seorang Fatimah.
Cara yang paling mungkin untuk
menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Sayyidah Fatimah Az Zahra adalah
sebagaimana cara yang juga dilakukan oleh Rasulullah SAW, ayahanda beliau sendiri, yaitu membandingkan Fatimah dengan Maryam bunda Nabi Isa AS.
Banyak kesamaan yang bisa kita lihat pada kedua pribadi besar ini. Sisi
yang paling menonjol dari kedua tokoh yang sangat dicintai oleh banyak
orang ini adalah ibadah yang kuat dan penderitaan yang dialami keduanya,
Fatimah dan Maryam. Semoga salam dan sejahtera senantiasa dilimpahkan
atas mereka berdua. Bayangkanlah jika saat itu Anda adalah bunda Maryam
yang sedang melihat penyiksaan secara langsung atas "putra kandung"-nya
yang shaleh dan taat, diseret, disayat-sayat dengan sadis, dipukuli,
diludahi, ditendang dan dicaci maki.
Itulah yang juga terjadi pada Fatimah, putri dan kecintaan Rasulullah SAW. Segera sepeninggal Rasulullah SAW, sang putri nan suci ini mengalami cobaan dan ujian yang datang secara beruntun tanpa henti. Segera tidak lama setelah tubuh Rasul yang
mulia dikuburkan, Fatimah mengalami perlakuan-perlakuan yang sebelumnya
tidak pernah ia alami. Perampasan tanah Fadak, penghapusan hak khumus,
pendobrakan pintu rumahnya dan usaha-usaha ingin membakar habis rumahnya
terjadi pada masa jasad ayahnya yang sekaligus Rasul Allah masih
"hangat" berada didalam kuburnya. Dan terlebih lagi, seperti Maryam,
dia mulai merasakan masa-masa yang dekat yang mana putra-putrinya akan
mengalami penderitaan yang lebih dahsyat lagi terutama apa yang bakal
dialami oleh Husain putra yang sangat ia istimewakan ketimbang
anak-anaknya yang lain. Sepeninggal ayahnya, Sayyidah Fatimah hidup
selama 75 hari, masa-masa yang dilaluinya dengan berbagai kesedihan dan
derita. Selama 75 hari itu, Jibril datang mengunjunginya, menyampaikan
belasungkawa dan mengabarkan apa yang bakal menimpa dirinya dan
keturunannya. Dari Jibril AS lah, Fatimah mengetahui banyak hal yang
berkaitan dengan Hasan Husein AS dan keturunannya yang lain.
Berikut ini adalah detik-detik terakhir kehidupan putri tercinta Nabi, Fatimah dibawah ini:
Tulang rusuk dan tangan Fatimah yang patah sangat membuat putri Nabi
ini sangat menderita, bahkan cedera yang sedemikian serius itu juga
mengakibatkan bayi dalam kandungannya meninggal. Cedera fisik serta
benturan mental yang dialaminya memperparah sakitnya. Sebaris bait dalam
bentuk puisi yang dinyatakannya sebelum ia meninggal cukup memberikan
gambaran betapa berat beban derita yang dirasakan putri kesayangan Nabi
ini. Sekian banyak derita yang menimpaku apabila semua derita ini
ditimpakan kepada siang, niscaya siang segera kan berubah menjadi malam.
Walaupun begitu, wanita mulia ini tetap mengatakan kepada seisi
rumahnya bahwa ia merasa lebih baik, rasa sakit pada rusuk dan tangannya
tidak lagi terlalu dirasakannya dan panas demamnya sudah mulai turun.
Kemudian dia memandikan anak-anaknya yang segera dibantu Ali dan Fizzah.
Ia memandikan anak-anaknya,
mengganti pakaian mereka, kemudian mengantarkan mereka ke sepupunya.
Lalu ia memanggil suami tercintanya, Ali ke sisinya seraya berkata
dengan suara yang sangat lemah,
"Ali,
suamiku tercinta, engkau tahu mengapa kulakukan semua itu. Mohon engkau
maafkan kesalahanku. Mereka, anak-anak kita, sudah demikian menderita
bersamaku selama aku sakit, sehingga aku ingin hari ini mereka
berbahagia di hari terakhir hidupku. Wahai Ali, engkau pun tahu bahwa
hari ini adalah hari terakhirku. Aku gembira tetapi sekaligus sedih. Aku
gembira karena penderitaanku akan segera berakhir dan aku akan segera
bertemu dengan ayah tercinta, namun aku juga sedih karena harus berpisah
denganmu dan anak-anakku. Kumohon Ali, catatlah apa yang akan kukatakan
kepadamu dan lakukanlah apa yang ingin engkau melakukannya.
Sepeninggalku nanti, engkau boleh mengawini siapa saja yang engkau
sukai, tetapi alangkah baiknya jika engkau mengawini sepupuku, Yamamah.
Ia mencintai anak-anakku dan Husain sangat lengket dengannya. Biarlah
Fizzah (pelayan Fatimah) tinggal bersama kalian, sekalipun ia sudah
kawin, jika ia mau. Ia lebih dari sekedar pelayan bagiku. Aku
mencintainya sebagai anak."
"Wahai Ali, kuburkan jenazahku
di malam hari dan jangan biarkan orang-orang yang telah berbuat
sedemikian kejam kepadaku turut menyertai penguburan jenazahku. Dan
jangan kematianku mengecilkan hatimu. Engkau mesti melayani Islam dan
kebenaran untuk waktu yang lama. Janganlah penderitaanku membuat
hidupmu kau rasakan pahit. Berjanjilah padaku, Ali.". "Ya Fatimah, aku
berjanji." suara Ali bergetar. "Wahai Ali,,," Fatimah melanjutkan, "Aku
tahu betapa engkau mencintai anak-anakku, tetapi khusus Husain,
hati-hatilah kepadanya. Ia sangat mencintaiku dan ia akan sangat
kehilanganku. Jadilah ibu baginya, hingga menjelang sakitku ini. Ia
biasa tidur lelap diatas dadaku, sebentar lagi ia akan kehilangan itu."
Ali yang sedang mengelus-elus tangan Fatimah yang patah itu, tanpa
disadarinya meneteskan air matanya dan jatuh diatas tangan Fatimah.
Fatimah mengangkat wajahnya seraya berujar lembut, "jangan menangis
suamiku, aku tahu dengan wajah lahirmu yang kasar, namun betapa lembut
hatimu sesungguhnya. Engkau sudah terlalu banyak menderita dan akan
lebih banyak lagi derita yang akan engkau alami. Selamat tinggal tuanku,
selamat tinggal kekasihku, selamat tinggal suamiku tercinta. Selamat
tinggal Ali,, Katakanlah selamat jalan untukku.
Rasa sedih sudah sedemikian
mencekik kerongkongannya, sehingga nyaris tidak sanggup lagi ia
mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mengatakan dengan ucapan yang
bercampur dengan air mata, "Selamat tinggal Fatimah" Fatimah
melanjutkan, "Semoga Allah
Yang Maha Pengasih menolongmu dalam menanggung penderitaan dan
kesedihan ini dengan kesabaran. Sekarang biarkanlah aku sendiri dengan
Tuhanku". Ketika Fatimah mengakhiri kata-katanya ini, ia langsung
berpaling kearah babut sajadah, lalu bersujud ke hadirat Allah.
Beberapa kemudian Sayyidina Ali
memasuki ruangan. Ia mendapatkan Fatimah masih dalam keadaan bersujud
tetapi jiwanya telah berangkat dijemput ayahnya menuju rahmat Allah. Fatimah syahid dalam usia yang masih sangat muda, seperti yang dikatakan Sayyidina Ali:
"Sekuntum
bunga yang dipotong ketika sedang kuncup, dari Jannah kembali ke Jannah
dan telah meninggalkan semerbak wewangian ke dalam jiwaku"
Tak
ada dan tak kan ada derita yang lebih hebat dari yang pernah dialami
oleh mereka Ahlul Bait. Ketika mengingat Fatimah maka yang terbayang
oleh kita hanya derita dan sengsara., seolah Fatimah adalah derita itu
sendiri dan kesengsaraan adalah Ahlul Bait itu sendiri.
| KESABARAN MENITI KEMISKINAN | untuk semuanya |
Suatu
ketika, demikian menurut riwayat Suwaid bin Ghaflah, Ali mendapat
kesusahan. Fatimah pun datang ke tempat Rasulullah. Ia mengetuk pintu.
Rasulullah berkata, “Aku mendengar suara kecintaanku di depan pintu.
Wahai Ummu Aiman, bangunlah dan lihatlah.” Ummu Aiman membukakan pintu
untuknya, dan Fatimah pun masuk. Rasulullah berkata kepadanya, “Engkau
datang kepada kami pada waktu yang tidak biasanya.”
Fatimah pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, apa makanan malaikat di sisi Allah?”
“Bertahmid (memuji Allah),” Jawab Rasulullah.
“Apa makanan kita?” Tanya Fatimah lagi.
“Demi Allah, tidak pernah api menyala selama sebulan penuh pada keluarga Muhammad. Maukah Engkau aku ajarkan lima kalimat yang Malaikat Jibril ajarkan kepadaku?” Tanya Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, apa kalimat itu?”
Nabi pun menjawab:
“Yaa Rabbilawwaliina Wal-akhiriina, Yaa Dzalquwwatilmatiina, Wa Yaa Raahimalmasaakiini Wa Yaa Arhamar-rahimiina” (Wahai Tuhan orang-orang terdahulu, Tuhan orang-orang kemudian, wahai Pemilik kekuatan yang kokoh, Wahai Pengasih orang-orang miskin, Wahai Yang Paling Pengasih dari yang Pengasih.”
Lalu Fatimah pun pulang. Ketika Ali melihatnya, ia bertanya, “Bagaimana hasilnya, wahai Fatimah?”
“Fatimah menjawab, “Aku pergi untuk mendapatkan dunia dan pulang dengan membawa akhirat.”
Lalu Ali berkata kepadanya, “Kebaikan di hadapanmu, kebaikan di hadapanmu!”
Suatu hari, Rasulullah saw menjenguk Fatimah yang sedang sakit kepala. Beliau bertanya kepadanya, “Anakku, bagaimana keadaanmu?” Fatimah menjawab, Aku benar-benar sakit kepala, dan bertambah sakit karena aku tidak memiliki makanan yang dapat aku makan.” Maka beliau berkata, “Tidakkah kamu senang bahwa kamu adalah pemimpin wanita di seluruh alam?
Abu Ja’far mengatakan, “Fatimah mengadu kepada Rasulullah tentang Ali. Ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidak tinggal sesuatu pun dari rizkinya melainkan ia bagi-bagikan kepada orang-orang miskin.” Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Wahai Fatimah, apakah engkau marah kepada saudaraku dan anak pamanku. Sesungguhnya kemarahan dia adalah kemarahanku, dan kemarahanku adalah kemarahan Allah.”
Pada suatu hari, Rasulullah datang ke rumah Fatimah lalu bertanya, “Mana anak-anakku Hasan dan Husain?” Fatimah menjawab, “Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah yang dapat dicicipi, sehingga Ali mengatakan, ‘Saya akan pergi dengan keduanya ke rumah seorang Yahudi.” Rasulullah pun pergi ke tempatnya. Beliau mendapati keduanya sedang bermain, sedang di tangan mereka terdapat sisa kurma. Belaiu berkata, “Wahai Ali, mengapa engkau tidak menyuruh pulang keduanya anakku ini sebelum mereka sangat kepanasan?” Ali menjawab, “Pagi ini tak ada sesuatu pun yagn kami miliki di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, samapi aku mengumpulak buah untuk Fatimah?” Ali menimba air untuk seorang Yahudi, dimana untuk setiap timba ia mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul baginya sejumlah kurma, ia pun kembali ke rumah.”
Imran bin Hushain mengatakan, “Aku pernah bersama Rasulullah yang sedang duduk. Tiba-tiba Fatimah tampak kekuning-kuningan dan pucat karena sangat lapar. Lalu beliau berkata, “Mendekatlah Fatimah!” Fatimah pun mendekat. Beliau berkata lagi, “Mendekatlah, Fatimah!” Fatimah mendekat sampai berdiri di hadapannya. Kemudian beliau meletakkan tangannya di atas dada Fatimah di tempat kalung sambil merenggangkan jari-jarinya. Setelah itu Beliau berdoa,
”Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah Engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.”
Imran mengatakan, “Lalu aku memandangnya. Darahnya tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.”
Fatimah pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, apa makanan malaikat di sisi Allah?”
“Bertahmid (memuji Allah),” Jawab Rasulullah.
“Apa makanan kita?” Tanya Fatimah lagi.
“Demi Allah, tidak pernah api menyala selama sebulan penuh pada keluarga Muhammad. Maukah Engkau aku ajarkan lima kalimat yang Malaikat Jibril ajarkan kepadaku?” Tanya Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, apa kalimat itu?”
Nabi pun menjawab:
“Yaa Rabbilawwaliina Wal-akhiriina, Yaa Dzalquwwatilmatiina, Wa Yaa Raahimalmasaakiini Wa Yaa Arhamar-rahimiina” (Wahai Tuhan orang-orang terdahulu, Tuhan orang-orang kemudian, wahai Pemilik kekuatan yang kokoh, Wahai Pengasih orang-orang miskin, Wahai Yang Paling Pengasih dari yang Pengasih.”
Lalu Fatimah pun pulang. Ketika Ali melihatnya, ia bertanya, “Bagaimana hasilnya, wahai Fatimah?”
“Fatimah menjawab, “Aku pergi untuk mendapatkan dunia dan pulang dengan membawa akhirat.”
Lalu Ali berkata kepadanya, “Kebaikan di hadapanmu, kebaikan di hadapanmu!”
Suatu hari, Rasulullah saw menjenguk Fatimah yang sedang sakit kepala. Beliau bertanya kepadanya, “Anakku, bagaimana keadaanmu?” Fatimah menjawab, Aku benar-benar sakit kepala, dan bertambah sakit karena aku tidak memiliki makanan yang dapat aku makan.” Maka beliau berkata, “Tidakkah kamu senang bahwa kamu adalah pemimpin wanita di seluruh alam?
Abu Ja’far mengatakan, “Fatimah mengadu kepada Rasulullah tentang Ali. Ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidak tinggal sesuatu pun dari rizkinya melainkan ia bagi-bagikan kepada orang-orang miskin.” Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Wahai Fatimah, apakah engkau marah kepada saudaraku dan anak pamanku. Sesungguhnya kemarahan dia adalah kemarahanku, dan kemarahanku adalah kemarahan Allah.”
Pada suatu hari, Rasulullah datang ke rumah Fatimah lalu bertanya, “Mana anak-anakku Hasan dan Husain?” Fatimah menjawab, “Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah yang dapat dicicipi, sehingga Ali mengatakan, ‘Saya akan pergi dengan keduanya ke rumah seorang Yahudi.” Rasulullah pun pergi ke tempatnya. Beliau mendapati keduanya sedang bermain, sedang di tangan mereka terdapat sisa kurma. Belaiu berkata, “Wahai Ali, mengapa engkau tidak menyuruh pulang keduanya anakku ini sebelum mereka sangat kepanasan?” Ali menjawab, “Pagi ini tak ada sesuatu pun yagn kami miliki di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, samapi aku mengumpulak buah untuk Fatimah?” Ali menimba air untuk seorang Yahudi, dimana untuk setiap timba ia mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul baginya sejumlah kurma, ia pun kembali ke rumah.”
Imran bin Hushain mengatakan, “Aku pernah bersama Rasulullah yang sedang duduk. Tiba-tiba Fatimah tampak kekuning-kuningan dan pucat karena sangat lapar. Lalu beliau berkata, “Mendekatlah Fatimah!” Fatimah pun mendekat. Beliau berkata lagi, “Mendekatlah, Fatimah!” Fatimah mendekat sampai berdiri di hadapannya. Kemudian beliau meletakkan tangannya di atas dada Fatimah di tempat kalung sambil merenggangkan jari-jarinya. Setelah itu Beliau berdoa,
”Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah Engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.”
Imran mengatakan, “Lalu aku memandangnya. Darahnya tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.”
Kata kunci: fatimah
Sebelumnya: CiRi - CiRi WaNiTa ShALiHaHSelanjutnya : BaHaYa GhIBaH
DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI
Maka… berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu
MENGENAL PRIBADI FATIMAH AZ ZAHRA Agustus 7, 2007
Riwayat yang masyhur
menyebutkan bahwa Fatimah Zahra AS, hanya sempat mengenyam kehidupan
yang singkat. Beliau wafat pada usia yang sangat belia, 18 tahun. Meski
singkat, kehidupan beliau banyak mengandung pelajaran berharga.
Kehidupan putri Rasul ini, laksana permata indah yang memancarkan
cahaya. Pada kesempatan ini, kami ingin mengajak Anda untuk melihat
sekelumit dari kepribadian beliau yang agung, untuk dijadikan pedoman,
khususnya bagi kaum perempuan.Baca selanjutnya
Tak diragukan lagi,
sebagian besar problem dan masalah yang dihadapi umat manusia adalah
karena kelalaiannya akan hakikat wujud kemanusiaannya, sehingga dia
terjebak dalam tipuan dunia. Sebaliknya, manusia bisa mendekatkan diri
kepada Tuhan saat dia mengenal dirinya dan mengetahui tugas yang harus
ia lakukan dan pertanggungjawabkan kepada Allah, Sang Pencipta alam
kehidupan.
Fatimah Zahra AS,
adalah seorang figur yang unggul dalam keutamaan ini. Dalam doanya,
beliau sering berucap, “Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan
tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan
tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan jangan Engkau
sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.”
Keikhlasan dalam
beramal adalah jembatan menuju keselamatan dan keberuntungan. Manusia
yang memiliki jiwa keikhlasan akan terbebas dari seluruh belenggu hawa
nafsu dan akan sampai ke tahap penghambaan murni. Keikhlasan akan
memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Contoh
terbaik dalam hal ini dapat ditemukan pada pribadi agung Fatimah Zahra
AS. Seseorang pernah bertanya kepada Imam Mahdi AS, “Siapakah di antara
putri-putri Nabi yang lebih utama dan memiliki kedudukan yang lebih
tinggi?” Beliau menjawab, “Fatimah.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana Anda
menyebut Fatimah sebagai yang lebih utama padahal beliau hanya hidup
singkat dan tidak lama bersama Nabi?” Beliau menjawab, “Allah memberikan
keutamaan dan kemuliaan ini kepada Fatimah karena keikhlasan dan
ketulusan hatinya.”
Sayyidah Fatimah dalam
munajatnya sering mengungkapkan kata-kata demikian, “Ya Allah, aku
bersumpah dengan ilmu ghaib yang Engkau miliki dan kemampuan
penciptaan-Mu. Berilah aku keikhlasan. Aku ingin aku tetap tunduk dan
menghamba kepada-Mu di kala senang dan susah. Saat kemiskinan mengusikku
atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap berharap kepada-Mu. Hanya
dari-Mu aku memohon kenikmatan tak berujung dan kelapangan pandangan
yang tak berakhir dengan kegelapan. Ya Allah, hiasilah aku dengan iman
dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk.”
Kecintaan Fatimah AS
kepada Tuhan disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang
tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu
Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan
melupakan segalanya.”
Manusia yang mengenal
Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang
terpuji. Asma’, salah seorang wanita yang dekat dengan Sayyidah Fatimah
AS mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih
santun dari Fatimah. Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang
Mahabenar. Hanya orang yang terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa
memiliki perilaku dan kesantunan yang suci. Ketika Allah swt melalui
firman-Nya memerintahkan umat untuk tidak memanggil Rasul dengan
namanya, Fatimah lantas memanggil ayahnya dengan sebutan Rasulullah.
Kepadanya Nabi bersabda, “Fatimah, ayat suci ini tidak mencakup dirimu.”
Dalam kehidupan rumah tangganya, putri Nabi ini selalu menjaga etika
dan akhlak. Kehidupan Ali dan Fatimah yang saling menjaga kesantunan ini
layak menjadi teladan bagi semua.
Kasih sayang dan
kelemah-lembutan Fatimah AS diakui oleh semua orang yang hidup sezaman
dengannya. Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka
yang memiliki hajat, akan datang ke rumah Fatimah ketika semua jalan
yang bisa diharapkan membantu mengatasi persoalan mereka telah tertutup.
Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka, padahal kehidupannya
sendiri serba berkekurangan.
Poin penting lain yang
dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat
ini adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap
masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial. Banyak yang
berprasangka bahwa keimanan dan penghambaan yang tulus kepada Allah akan
menghalangi orang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan
Sayyidah Fatimah Zahra AS mengajarkan kepada semua orang akan hal yang
berbeda dengan anggapan itu. Dunia di mata beliau adalah tempat
kehidupan, meski demikian hal itu tidak berarti harus dikesampingkan.
Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak
kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya. Fatimah
AS berkata, “Ya Allah, perbaikilah duniaku bergantungnya kehidupanku.
Perbaikilah kondisi akhiratku, karena ke sanalah aku akan kembali.
Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap kebaikan dan berkah
dari dunia ini…”
Detik-detik akhir
kehidupannya telah tiba. Duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul
oleh putri tercinta Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut
Fatimah bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta mengadukan keadaannya.
Asma berkata, “Saya menyaksikan saat itu Fatimah AS mengangkat tangannya
dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara kemuliaan
Nabi dan kecintaannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan nama Ali
dan kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon kepada-Mu dengan
perantara Hasan dan Husein serta derita mereka yang aku rasakan. Aku
memohon kepada-Mu atas nama putri-putriku dan kesedihan mereka. Aku
memohon, kasihilah umat ayahku yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka.
Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang
Maha Pengasih dari semua pengasih.”
Sebelum
ajal datang menjemputnya, Fatimah Zahra AS menghadap kiblat setelah
sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah,
jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku nantikan. Ya Allah,
curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah ruhku di tengah
arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad mulia. Ya
Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau terima.”
Tanggal
3 Jumadi Tsani tahun 11 Hijriyyah, Fatimah Zahra putri kesayangan Nabi
menutup mata untuk selamanya. Beliau wafat meninggalkan
pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan. Hari ini, kami
mengucapkan belasungkawa kepada para pecinta keluarga suci Rasul.
Rasul
pernah menyifati putrinya, Fatimah AS dengan sabdanya, “Allah telah
memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh Fatimah dengan keimanan dan
keyakinan.” Kepada putrinya itu, beliau pernah bersabda, “Fatimah, Allah
telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat dan pengetahuan. Dia
juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita seluruh
jagat.“
Kecintaan
Rasulullah SAW kepada Fatimah Zahra AS merupakan satu hal khusus yang
layak untuk dipelajari dari kehidupan beliau. Di saat bangsa Arab
menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan, Rasul
memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain itu,
Rasulullah SAW biasa memuji seseorang yang memiliki keutamaan. Dengan
kata lain, pujian Rasul kepada Fatimah adalah karena beliau menyaksikan
kemuliaan pada diri putrinya itu. Nabi SAW tahu akan apa yang bakal
terjadi sepeninggalnya kelak. Karena itu, sejak dini beliau telah
mengenalkan kemuliaan dan keagungan Fatimah kepada umatnya, supaya kelak
mereka tidak bisa beralasan tidak mengenal keutamaan penghulu wanita
sejagat itu.
Suatu
hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Mengapa Anda tidak
memperlakukan anak-anak Anda yang lain seperti Fatimah?” Rasul menjawab,
“Engkau tidak mengenal Fatimah. Aku mencium bau surga pada diri
Fatimah. Engkau tidak tahu bahwa keredhaan Allah ada pada keredhaan
Fatimah dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan Fatimah.”
Kesempurnaan
manusia tidak mengenal jenis jantina. Kesempurnaan itu adalah sebuah
anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk dapat mengenal
dirinya lebih dalam. Fatimah adalah contoh nyata dari sebuah
kesempurnaan. Dengan mengikuti dan meneladaninya, kesuksesan dan
kebahagiaan hakiki yang menghantarkan kepada kesempurnaan akan bisa
digapai. Fatimah adalah wanita yang banyak menimba ilmu, makrifat dan
hikmah hakiki. Keluasan ilmunya tampak sekali dalam khotbah yang beliau
sampaikan di masjid Nabi, di hadapan para sahabat.
Dalam
khotbah itu, Fatimah AS menjelaskan bahwa satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan diri dan masyarakat adalah dengan memegang teguh agama dan
patuh kepada perintah Allah. Beliau yang mengetahui psikologi
masyarakatnya menerangkan berbagai kekurangan yang ada di tengah mereka.
Dalam khotbah itu, Fatimah AS membawakan berbagai ayat suci Al-Qur’an
dan menjelaskan tafsirannya. Peristiwa yang terjadi di masa lalu,
sejarah umat-umat terdahulu yang layak dijadikan pelajaran dan bahan
peringatan, diungkapkannya. Dalam khotbah tersebut Fatimah sebagai
seorang hamba yang saleh dan arif yang hakiki, menjelaskan kecintaannya
kepada Sang Maha Pencipta.
Fatimah
Zahra AS, adalah wanita yang mengenal betul kondisi di tengah
masyarakat. Beliau sadar akan adanya makar dan tipu daya musuh-musuh
Islam. Hal itulah yang kemudian beliau ungkapkan dalam khotbahnya.
Singkatnya, Fatimah AS sebagai seorang yang mengetahui seluk beluk
politik dan sadar akan kondisi di zamannya, menerangkan kepada semua
orang bahwa Islam adalah agama terakhir Tuhan dan syariat yang paling
sempurna. Beliau juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan keselamatan
adalah dengan mengikuti jejak Ahlul Bait AS.
Berikut
ini adalah sekelumit dari khotbah Sayyidah Fatimah Zahra AS di masjid
Nabi. “Rasulullah diutus saat seluruh bangsa terpecah-pecah. Mereka
menyembah berhala. Meski mengenal Tuhan, mereka mengingkarinya. Dengan
perantara Muhammad, Allah menyingkap tabir syirik dan kekafiran. Dia
membersihkan kotoran dari hati, dan Dia berikan cahaya di mata. Muhammad
dengan cahaya petunjuk bangkit di tengah umat untuk menyelamatkan
mereka dari kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya
benderang. Dia menggiring umat ke arah agama yang kuat dan mengajak
mereka kepada kebenaranKisah Cinta Ali – Fatimah
Fatimah, adalah seorang perempuan yang sudah lama Ali kagumi.
Tapi sayang ternyata niat Ali telah didahului oleh Abu
Bakar yang sudah duluan melamar Fatimah. Ali pun harus ikhlas bahwa
cintanya selama ini berakhir pupus. Apalagi Abu Bakar adalah sahabat
setia Rasul yang sangat sholeh dan begitu sayang kepada Rasul, dan rasul
pun menyayangi beliau pula. Sedangkan Ali merasa dirinya hanyalah
seorang pemuda yang miskin, sungguh jauh bila dibandingkan dengan orang
seperti Abu Bakar pikirnya.
Rencana Allah memang sulit ditebak oleh manusia,
ternyata Rasul hanya diam ketika Abu Bakar melamar putri beliau, yang
maksudnya Rasul menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali pun senang,
karena masih merasa memiliki kesempatan melamar Fatimah. Maka Ali pun
bergegas ingin segera melamar Fatimah sebelum didahului lagi. Namun
sungguh sayang sekali, lagi-lagi Ali terdahului lagi oleh Umar.
Lagi-lagi hati Ali tersayat, Ali sangat bersedih. Sama
seperti dengan Abu Bakar, Ali merasa tak ada harapan lagi, lagi pula
apakah cukup dengan cinta ia akan melamar Fatimah, karena ia hanyalah
seorang pemuda biasa yang mengharapkan seorang putri Rasul yang luar
biasa, berbeda bila dibandingkan dengan Umar seorang keturunan bangsawan
yang gagah dan berkharisma, maka Ali pun hanya bisa bertawakal kepada
Allah, semoga dikuatkan dengan derita cinta yang sedang dialaminya. Kali
ini Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar menghadapi kenyataan itu.
Namun Ali adalah pemuda yang sholeh, ia pun yakin Allah
Maha Adil, pasti Allah sudah mempersiapkan pendamping hidup baginya.
Derita cinta memang menyakitkan. Disaat Ali merasakan derita cintanya,
tak disangka-sangka datanglah Abu Bakar dengan senyum indahnya, dan
memberitahu Ali untuk segera bertemu dengan Rasul karena ada yang ingin
beliau sampaikan. Pikir Ali pasti ini tentang pernikahan Umar dengan
Fatimah, sepertinya Rasul meminta Ali untuk membantu persiapan
pernikahan mereka. Maka Ali pun menyemangati dirinya sendiri agar kuat
dan tegar, walaupun sebenarnya hatinya sangat perih teriris-iris harus
membantu mempersiapkan dan menyaksikan pujaan hatinya menikah dengan
orang lain.
Sungguh rencana Allah memang yang paling indah, setelah
Ali bertemu Rasul, tak disangka ternyata lamaran Umar bernasib sama
dengan lamaran Abu Bakar, bahkan Rasul menginginkan Ali untuk menjadi
suami Fatimah. Karena Rasul sudah lama tahu bahwa Ali telah lama
memendam rasa cinta kepada putrinya. Ali pun sangat bahagia dan
bersyukur, ia pun langsung melamar Fatimah melalui Rasul. Tapi Ali malu
kepada Rasul karena ia tak memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar.
Namun sungguh mulia akhlak Rasul, beliau tidak
membebankan Ali, Rasul berkata bahwa nikahilah Fatimah walaupun hanya
bermahar cincin besi. Akhirnya Ali merelakan baju perangnya untuk
melamar Fatimah, Rasul pun menerima lamaran itu, Fatimahpun mematuhi
ayahnya serta siap menikah dengan Ali.
Akhirnya Ali pun menikah dengan Fatimah, perempuan yang telah lama ia cintai.
Sekarang Fatimah telah menjadi istri Ali, mereka telah
halal satu sama lain. Beberapa saat setelah menikah dan siap melewati
awal kehidupan bersama yaitu malam pertama yang indah hingga menjalani
hari-hari selanjutnya bersama.
Fatimah : (berkata kepada Ali) “Wahai
suamiku Ali, aku telah halal bagimu, aku pun sangat bersyukur kepada
Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, sholeh, cerdas dan
baik sepertimu…”.
Ali : “Aku pun begitu wahai
Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku
padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatansuci
pernikahanku denganmu.”.
Fatimah : (berkata dengan lembut) “Wahai
suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? karena aku ingin terjalin
komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tanggakita…”.
Ali : “Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu…”.
Fatimah : “Wahai Ali suamiku,
maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah
denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada
seorang pemuda, dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya
untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku
adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu,
mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berdua
bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah…”
Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang
siap mengarungi bahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat
jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah.
Tapi Ali juga terkejut dan agak sedih ketika mengetahui
bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan
kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih karena sepertinya Fatimah
menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya
Fatimah, Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi
taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri
Ali dengan ikhlas.
Namun Ali memang sungguh pemuda yang sangat baik hati,
ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah, tapi karena
rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali
pun merasa agak bersalah jika hati Fatimah terluka, karena Ali sangat
tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah
sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan didalam
hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah
dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi
disisi lain Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam
sejenak, ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.
Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali suamiku
sayang, Astagfirullah maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu,
demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik
cintaku, raja yang menguasai hatiku.”.
Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan
pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu. Melihat sikap Ali,
Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak
usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam
indah kita ini. Ayolah sayang…aku menantimu Ali…”.
Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah,
kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang
memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu, kau pun juga
tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku… Tapi Fatimah, tahukah
engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka.
Sungguh aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti, aku bisa merasa
bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh
cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat
sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai
akhirnya kau mencintaiku…”.
Fatimah pun tersenyum mendengar kata-kata Ali, Ali diam
sesaat sambil merenung, tak terasa mata Ali pun mulai keluar air mata,
lalu dengan sangat tulus Ali berkata lagi, “Wahai Fatimah, aku
sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau
masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah
dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas, lagi pula pemuda itu
juga mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Aku
tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan, sungguh aku
sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah
dengannya, aku rela…”.
Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap
Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika
itu juga Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan
berkata, “Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku
tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak
akan meminta apapun lagi darimu,namun izinkanlah aku mengetahui nama
pemuda itu.”
Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat
lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan
erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu,“Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.”
Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya. Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai
Ali, Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu
setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada
seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu,
sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah
membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah
menikah…”.
Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya ”Apa
maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta
kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku,
dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin
mempermainkan aku Fatimah?, sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu?
Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”.
Fatimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali
ini dengan dekapan yang mesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan
manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku
memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun,
sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku
tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini, aku pun tahu
bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu
dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Kau juga benar
wahai Ali cintaku, ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai
sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan
kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya…”
Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau
ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia
berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam
saja ya, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja
padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata
memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…”
Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…???”
Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”.
Ali lalu langsung berubah mimik wajahnya menjadi sangat
bahagia, lalu membalas pelukan Fatimah dengan dekapan yang sangat mesra.
Mereka masih agak malu-malu, saling bertatapan lalu tersenyum dan
tertawa cekikikan karena tak habis pikir dengan ulah masing-masing.
Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan indah dalam dekapan
Mahabbah-Nya yang suci.
Subhanallah. Ali dan Fatimah pun
menjalani rumah tangga mereka dengan suka maupun duka, Dan buah cinta
dari pernikahan Ali dan Fatimah adalah putra kembar yang tampan bernama
Hasan dan Husain, mereka berdua adalah anak yang sangat disayangi
orangtuanya dan disayangi Rasul, kakek mereka. Juga disayangi keluarga
Rasul yang lain tentunya. Mereka berdua nantinya juga menjadi tokoh dan
pejuang Islam yang luar biasa.
Selama berumah tangga, Ali sangat setia dengan Fatimah,
ia tak memadu Fatimah. Cintanya Ali memang untuk Fatimah, begitupun
cinta Fatimah memang untuk Ali, mereka juga bersama-sama hidup mulia
memperjuangkan Islam. Hingga hari itu pun tiba, semua yang hidup pasti
akan kembali ke sisi-Nya. Ali, Hasan dan Husin dilanda kesedihan,
Fatimah terlebih dahulu wafat, meninggalkan suami, anak-anak dan
orang-orang yang mencintai dan dicintainya.
Itulah kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah
Az-Zahra binti Muhammad, subhanallah, Allah memang Maha Adil, rencana
dan skenario-Nya sangat indah. Ada beberapa hikmah darikisah cinta
mereka.
Ketika Ali merasa belum siap untuk melangkah
lebih jauh dengan Fatimah, maka cukup Ali mencintai Fatimah dengan diam.
Karena diam adalah satu bukti cinta pada seseorang, diam memuliakan
kesucian diri dan hati sendiri juga orang yang dicintai, sebab jika
suatu cinta diungkapkan namun belum siap untuk mengikatnya dengan ikatan
yang suci, bisa saja dalam interaksinya akan tergoda lalu terjerumus
kedalam maksiat, Naudzubillah…
Biarlah cinta dalam diam menjadi hal indah yang
bersemayam disudut hati dan menjadi rahasia antara hati sendiri dan
Allah Sang Maha Penguasa Hati. Yakinlah Allah Maha Tahu para hamba yang
menjaga hatinya, Allah juga telah mempersiapkan imbalan bagi para
penjaga hati.
^_^ Wallahu’alam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar