Kamis, 22 November 2012

FATIMAH AZ ZAHRA

Kehidupan Fatimah Az Zahra



Hampir tidak mungkin kita bisa menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Fatimah Az Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW ini. Setiap kita membayangkan suatu kemuliaan yang mungkin bisa kita ungkapkan untuk menggambarkan kemuliaan atau kebesarannya maka terbesit dalam hati kita keraguan bahwa apa yang kita bayangkan itu masih terlalu kecil untuk seorang Fatimah.

Cara yang paling mungkin untuk menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Sayyidah Fatimah Az Zahra adalah sebagaimana cara yang juga dilakukan oleh Rasulullah SAW, ayahanda beliau sendiri, yaitu membandingkan Fatimah dengan Maryam bunda Nabi Isa AS. Banyak kesamaan yang bisa kita lihat pada kedua pribadi besar ini. Sisi yang paling menonjol dari kedua tokoh yang sangat dicintai oleh banyak orang ini adalah ibadah yang kuat dan penderitaan yang dialami keduanya, Fatimah dan Maryam. Semoga salam dan sejahtera senantiasa dilimpahkan atas mereka berdua. Bayangkanlah jika saat itu Anda adalah bunda Maryam yang sedang melihat penyiksaan secara langsung atas "putra kandung"-nya yang shaleh dan taat, diseret, disayat-sayat dengan sadis, dipukuli, diludahi, ditendang dan dicaci maki.

Itulah yang juga terjadi pada Fatimah, putri dan kecintaan Rasulullah SAW. Segera sepeninggal Rasulullah SAW, sang putri nan suci ini mengalami cobaan dan ujian yang datang secara beruntun tanpa henti. Segera tidak lama setelah tubuh Rasul yang mulia dikuburkan, Fatimah mengalami perlakuan-perlakuan yang sebelumnya tidak pernah ia alami. Perampasan tanah Fadak, penghapusan hak khumus, pendobrakan pintu rumahnya dan usaha-usaha ingin membakar habis rumahnya terjadi pada masa jasad ayahnya yang sekaligus Rasul Allah masih "hangat" berada didalam kuburnya. Dan terlebih lagi, seperti Maryam, dia mulai merasakan masa-masa yang dekat yang mana putra-putrinya akan mengalami penderitaan yang lebih dahsyat lagi terutama apa yang bakal dialami oleh Husain putra yang sangat ia istimewakan ketimbang anak-anaknya yang lain. Sepeninggal ayahnya, Sayyidah Fatimah hidup selama 75 hari, masa-masa yang dilaluinya dengan berbagai kesedihan dan derita. Selama 75 hari itu, Jibril datang mengunjunginya, menyampaikan belasungkawa dan mengabarkan apa yang bakal menimpa dirinya dan keturunannya. Dari Jibril AS lah, Fatimah mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan Hasan Husein AS dan keturunannya yang lain.

Berikut ini adalah detik-detik terakhir kehidupan putri tercinta Nabi, Fatimah dibawah ini:
Tulang rusuk dan tangan Fatimah yang patah sangat membuat putri Nabi ini sangat menderita, bahkan cedera yang sedemikian serius itu juga mengakibatkan bayi dalam kandungannya meninggal. Cedera fisik serta benturan mental yang dialaminya memperparah sakitnya. Sebaris bait dalam bentuk puisi yang dinyatakannya sebelum ia meninggal cukup memberikan gambaran betapa berat beban derita yang dirasakan putri kesayangan Nabi ini. Sekian banyak derita yang menimpaku apabila semua derita ini ditimpakan kepada siang, niscaya siang segera kan berubah menjadi malam. Walaupun begitu, wanita mulia ini tetap mengatakan kepada seisi rumahnya bahwa ia merasa lebih baik, rasa sakit pada rusuk dan tangannya tidak lagi terlalu dirasakannya dan panas demamnya sudah mulai turun. Kemudian dia memandikan anak-anaknya yang segera dibantu Ali dan Fizzah.

Ia memandikan anak-anaknya, mengganti pakaian mereka, kemudian mengantarkan mereka ke sepupunya. Lalu ia memanggil suami tercintanya, Ali ke sisinya seraya berkata dengan suara yang sangat lemah,
"Ali, suamiku tercinta, engkau tahu mengapa kulakukan semua itu. Mohon engkau maafkan kesalahanku. Mereka, anak-anak kita, sudah demikian menderita bersamaku selama aku sakit, sehingga aku ingin hari ini mereka berbahagia di hari terakhir hidupku. Wahai Ali, engkau pun tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirku. Aku gembira tetapi sekaligus sedih. Aku gembira karena penderitaanku akan segera berakhir dan aku akan segera bertemu dengan ayah tercinta, namun aku juga sedih karena harus berpisah denganmu dan anak-anakku. Kumohon Ali, catatlah apa yang akan kukatakan kepadamu dan lakukanlah apa yang ingin engkau melakukannya. Sepeninggalku nanti, engkau boleh mengawini siapa saja yang engkau sukai, tetapi alangkah baiknya jika engkau mengawini sepupuku, Yamamah. Ia mencintai anak-anakku dan Husain sangat lengket dengannya. Biarlah Fizzah (pelayan Fatimah) tinggal bersama kalian, sekalipun ia sudah kawin, jika ia mau. Ia lebih dari sekedar pelayan bagiku. Aku mencintainya sebagai anak."

"Wahai Ali, kuburkan jenazahku di malam hari dan jangan biarkan orang-orang yang telah berbuat sedemikian kejam kepadaku turut menyertai penguburan jenazahku. Dan jangan kematianku mengecilkan hatimu. Engkau mesti melayani Islam dan kebenaran untuk waktu yang lama. Janganlah penderitaanku membuat hidupmu kau rasakan pahit. Berjanjilah padaku, Ali.". "Ya Fatimah, aku berjanji." suara Ali bergetar. "Wahai Ali,,," Fatimah melanjutkan, "Aku tahu betapa engkau mencintai anak-anakku, tetapi khusus Husain, hati-hatilah kepadanya. Ia sangat mencintaiku dan ia akan sangat kehilanganku. Jadilah ibu baginya, hingga menjelang sakitku ini. Ia biasa tidur lelap diatas dadaku,  sebentar lagi ia akan kehilangan itu." Ali yang sedang mengelus-elus tangan Fatimah yang patah itu, tanpa disadarinya meneteskan air matanya dan jatuh diatas tangan Fatimah. Fatimah mengangkat wajahnya seraya berujar lembut, "jangan menangis suamiku, aku tahu dengan wajah lahirmu yang kasar, namun betapa lembut hatimu sesungguhnya. Engkau sudah terlalu banyak menderita dan akan lebih banyak lagi derita yang akan engkau alami. Selamat tinggal tuanku, selamat tinggal kekasihku, selamat tinggal suamiku tercinta. Selamat tinggal Ali,, Katakanlah selamat jalan untukku.

Rasa sedih sudah sedemikian mencekik kerongkongannya, sehingga nyaris tidak sanggup lagi ia mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mengatakan dengan ucapan yang bercampur dengan air mata, "Selamat tinggal Fatimah" Fatimah melanjutkan, "Semoga Allah Yang Maha Pengasih menolongmu dalam menanggung penderitaan dan kesedihan ini dengan kesabaran. Sekarang biarkanlah aku sendiri dengan Tuhanku". Ketika Fatimah mengakhiri kata-katanya ini, ia langsung berpaling kearah babut sajadah, lalu bersujud ke hadirat Allah.

Beberapa kemudian Sayyidina Ali memasuki ruangan. Ia mendapatkan Fatimah masih dalam keadaan bersujud tetapi jiwanya telah berangkat dijemput ayahnya menuju rahmat Allah. Fatimah syahid dalam usia yang masih sangat muda, seperti yang dikatakan Sayyidina Ali:
"Sekuntum bunga yang dipotong ketika sedang kuncup, dari Jannah kembali ke Jannah dan telah meninggalkan semerbak wewangian ke dalam jiwaku"
Tak ada dan tak kan ada derita yang lebih hebat dari yang pernah dialami oleh mereka Ahlul Bait. Ketika mengingat Fatimah maka yang terbayang oleh kita hanya derita dan sengsara., seolah Fatimah adalah derita itu sendiri dan kesengsaraan adalah Ahlul Bait itu sendiri.

Salamun 'Alaiki Ya Fatimah... Salamun 'Alaiki Ya Fatimah... Salamun 'Alaikum Ya Ahli Baitirasul... Allahumma Shalli 'Ala Sayyidina Muhammad Wa 'Ala Ali Sayyidina Muhammad

Aug 31, '07 7:35 AM
untuk semuanya
Suatu ketika, demikian menurut riwayat Suwaid bin Ghaflah, Ali mendapat kesusahan. Fatimah pun datang ke tempat Rasulullah. Ia mengetuk pintu. Rasulullah berkata, “Aku mendengar suara kecintaanku di depan pintu. Wahai Ummu Aiman, bangunlah dan lihatlah.” Ummu Aiman membukakan pintu untuknya, dan Fatimah pun masuk. Rasulullah berkata kepadanya, “Engkau datang kepada kami pada waktu yang tidak biasanya.”

Fatimah pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, apa makanan malaikat di sisi Allah?”

“Bertahmid (memuji Allah),” Jawab Rasulullah.

“Apa makanan kita?” Tanya Fatimah lagi.

“Demi Allah, tidak pernah api menyala selama sebulan penuh pada keluarga Muhammad. Maukah Engkau aku ajarkan lima kalimat yang Malaikat Jibril ajarkan kepadaku?” Tanya Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, apa kalimat itu?”

Nabi pun menjawab:
“Yaa Rabbilawwaliina Wal-akhiriina, Yaa Dzalquwwatilmatiina, Wa Yaa Raahimalmasaakiini Wa Yaa Arhamar-rahimiina” (Wahai Tuhan orang-orang terdahulu, Tuhan orang-orang kemudian, wahai Pemilik kekuatan yang kokoh, Wahai Pengasih orang-orang miskin, Wahai Yang Paling Pengasih dari yang Pengasih.”

Lalu Fatimah pun pulang. Ketika Ali melihatnya, ia bertanya, “Bagaimana hasilnya, wahai Fatimah?”

“Fatimah menjawab, “Aku pergi untuk mendapatkan dunia dan pulang dengan membawa akhirat.”

Lalu Ali berkata kepadanya, “Kebaikan di hadapanmu, kebaikan di hadapanmu!”

Suatu hari, Rasulullah saw menjenguk Fatimah yang sedang sakit kepala. Beliau bertanya kepadanya, “Anakku, bagaimana keadaanmu?” Fatimah menjawab, Aku benar-benar sakit kepala, dan bertambah sakit karena aku tidak memiliki makanan yang dapat aku makan.” Maka beliau berkata, “Tidakkah kamu senang bahwa kamu adalah pemimpin wanita di seluruh alam?

Abu Ja’far mengatakan, “Fatimah mengadu kepada Rasulullah tentang Ali. Ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidak tinggal sesuatu pun dari rizkinya melainkan ia bagi-bagikan kepada orang-orang miskin.” Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Wahai Fatimah, apakah engkau marah kepada saudaraku dan anak pamanku. Sesungguhnya kemarahan dia adalah kemarahanku, dan kemarahanku adalah kemarahan Allah.”

Pada suatu hari, Rasulullah datang ke rumah Fatimah lalu bertanya, “Mana anak-anakku Hasan dan Husain?” Fatimah menjawab, “Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah yang dapat dicicipi, sehingga Ali mengatakan, ‘Saya akan pergi dengan keduanya ke rumah seorang Yahudi.” Rasulullah pun pergi ke tempatnya. Beliau mendapati keduanya sedang bermain, sedang di tangan mereka terdapat sisa kurma. Belaiu berkata, “Wahai Ali, mengapa engkau tidak menyuruh pulang keduanya anakku ini sebelum mereka sangat kepanasan?” Ali menjawab, “Pagi ini tak ada sesuatu pun yagn kami miliki di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, samapi aku mengumpulak buah untuk Fatimah?” Ali menimba air untuk seorang Yahudi, dimana untuk setiap timba ia mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul baginya sejumlah kurma, ia pun kembali ke rumah.”

Imran bin Hushain mengatakan, “Aku pernah bersama Rasulullah yang sedang duduk. Tiba-tiba Fatimah tampak kekuning-kuningan dan pucat karena sangat lapar. Lalu beliau berkata, “Mendekatlah Fatimah!” Fatimah pun mendekat. Beliau berkata lagi, “Mendekatlah, Fatimah!” Fatimah mendekat sampai berdiri di hadapannya. Kemudian beliau meletakkan tangannya di atas dada Fatimah di tempat kalung sambil merenggangkan jari-jarinya. Setelah itu Beliau berdoa,
”Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah Engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.”

Imran mengatakan, “Lalu aku memandangnya. Darahnya tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.”
Sebelumnya: CiRi - CiRi WaNiTa ShALiHaH
Selanjutnya : BaHaYa GhIBaH

DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka… berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

MENGENAL PRIBADI FATIMAH AZ ZAHRA Agustus 7, 2007

Filed under: artikel bebas — haidarrein @ 7:28 am
fatimah-az-zahra-1.jpg
Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa Fatimah Zahra AS, hanya sempat mengenyam kehidupan yang singkat. Beliau wafat pada usia yang sangat belia, 18 tahun. Meski singkat, kehidupan beliau banyak mengandung pelajaran berharga. Kehidupan putri Rasul ini, laksana permata indah yang memancarkan cahaya. Pada kesempatan ini, kami ingin mengajak Anda untuk melihat sekelumit dari kepribadian beliau yang agung, untuk dijadikan pedoman, khususnya bagi kaum perempuan.Baca selanjutnya
Tak diragukan lagi, sebagian besar problem dan masalah yang dihadapi umat manusia adalah karena kelalaiannya akan hakikat wujud kemanusiaannya, sehingga dia terjebak dalam tipuan dunia. Sebaliknya, manusia bisa mendekatkan diri kepada Tuhan saat dia mengenal dirinya dan mengetahui tugas yang harus ia lakukan dan pertanggungjawabkan kepada Allah, Sang Pencipta alam kehidupan.
Fatimah Zahra AS, adalah seorang figur yang unggul dalam keutamaan ini. Dalam doanya, beliau sering berucap, “Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.”
Keikhlasan dalam beramal adalah jembatan menuju keselamatan dan keberuntungan. Manusia yang memiliki jiwa keikhlasan akan terbebas dari seluruh belenggu hawa nafsu dan akan sampai ke tahap penghambaan murni. Keikhlasan akan memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Contoh terbaik dalam hal ini dapat ditemukan pada pribadi agung Fatimah Zahra AS. Seseorang pernah bertanya kepada Imam Mahdi AS, “Siapakah di antara putri-putri Nabi yang lebih utama dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi?” Beliau menjawab, “Fatimah.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana Anda menyebut Fatimah sebagai yang lebih utama padahal beliau hanya hidup singkat dan tidak lama bersama Nabi?” Beliau menjawab, “Allah memberikan keutamaan dan kemuliaan ini kepada Fatimah karena keikhlasan dan ketulusan hatinya.”
Sayyidah Fatimah dalam munajatnya sering mengungkapkan kata-kata demikian, “Ya Allah, aku bersumpah dengan ilmu ghaib yang Engkau miliki dan kemampuan penciptaan-Mu. Berilah aku keikhlasan. Aku ingin aku tetap tunduk dan menghamba kepada-Mu di kala senang dan susah. Saat kemiskinan mengusikku atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap berharap kepada-Mu. Hanya dari-Mu aku memohon kenikmatan tak berujung dan kelapangan pandangan yang tak berakhir dengan kegelapan. Ya Allah, hiasilah aku dengan iman dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk.”
Kecintaan Fatimah AS kepada Tuhan disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya.”
Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji. Asma’, salah seorang wanita yang dekat dengan Sayyidah Fatimah AS mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih santun dari Fatimah. Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang Mahabenar. Hanya orang yang terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa memiliki perilaku dan kesantunan yang suci. Ketika Allah swt melalui firman-Nya memerintahkan umat untuk tidak memanggil Rasul dengan namanya, Fatimah lantas memanggil ayahnya dengan sebutan Rasulullah. Kepadanya Nabi bersabda, “Fatimah, ayat suci ini tidak mencakup dirimu.” Dalam kehidupan rumah tangganya, putri Nabi ini selalu menjaga etika dan akhlak. Kehidupan Ali dan Fatimah yang saling menjaga kesantunan ini layak menjadi teladan bagi semua.
Kasih sayang dan kelemah-lembutan Fatimah AS diakui oleh semua orang yang hidup sezaman dengannya. Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat, akan datang ke rumah Fatimah ketika semua jalan yang bisa diharapkan membantu mengatasi persoalan mereka telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka, padahal kehidupannya sendiri serba berkekurangan.
Poin penting lain yang dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial. Banyak yang berprasangka bahwa keimanan dan penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi orang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah Zahra AS mengajarkan kepada semua orang akan hal yang berbeda dengan anggapan itu. Dunia di mata beliau adalah tempat kehidupan, meski demikian hal itu tidak berarti harus dikesampingkan. Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya. Fatimah AS berkata, “Ya Allah, perbaikilah duniaku bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah kondisi akhiratku, karena ke sanalah aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap kebaikan dan berkah dari dunia ini…”
Detik-detik akhir kehidupannya telah tiba. Duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul oleh putri tercinta Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut Fatimah bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta mengadukan keadaannya. Asma berkata, “Saya menyaksikan saat itu Fatimah AS mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara kemuliaan Nabi dan kecintaannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan nama Ali dan kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon kepada-Mu dengan perantara Hasan dan Husein serta derita mereka yang aku rasakan. Aku memohon kepada-Mu atas nama putri-putriku dan kesedihan mereka. Aku memohon, kasihilah umat ayahku yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dari semua pengasih.”
Sebelum ajal datang menjemputnya, Fatimah Zahra AS menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku nantikan. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah ruhku di tengah arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad mulia. Ya Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau terima.”
Tanggal 3 Jumadi Tsani tahun 11 Hijriyyah, Fatimah Zahra putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Beliau wafat meninggalkan pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan. Hari ini, kami mengucapkan belasungkawa kepada para pecinta keluarga suci Rasul.  
Rasul pernah menyifati putrinya, Fatimah AS dengan sabdanya, “Allah telah memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh Fatimah dengan keimanan dan keyakinan.” Kepada putrinya itu, beliau pernah bersabda, “Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita seluruh jagat.“  
Kecintaan Rasulullah SAW kepada Fatimah Zahra AS merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari kehidupan beliau. Di saat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan, Rasul memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain itu, Rasulullah SAW biasa memuji seseorang yang memiliki keutamaan. Dengan kata lain, pujian Rasul kepada Fatimah adalah karena beliau menyaksikan kemuliaan pada diri putrinya itu. Nabi SAW tahu akan apa yang bakal terjadi sepeninggalnya kelak. Karena itu, sejak dini beliau telah mengenalkan kemuliaan dan keagungan Fatimah kepada umatnya, supaya kelak mereka tidak bisa beralasan tidak mengenal keutamaan penghulu wanita sejagat itu.
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Mengapa Anda tidak memperlakukan anak-anak Anda yang lain seperti Fatimah?” Rasul menjawab, “Engkau tidak mengenal Fatimah. Aku mencium bau surga pada diri Fatimah. Engkau tidak tahu bahwa keredhaan Allah ada pada keredhaan Fatimah dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan Fatimah.”
Kesempurnaan manusia tidak mengenal jenis jantina. Kesempurnaan itu adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk dapat mengenal dirinya lebih dalam. Fatimah adalah contoh nyata dari sebuah kesempurnaan. Dengan mengikuti dan meneladaninya, kesuksesan dan kebahagiaan hakiki yang menghantarkan kepada kesempurnaan akan bisa digapai. Fatimah adalah wanita yang banyak menimba ilmu, makrifat dan hikmah hakiki.  Keluasan ilmunya tampak sekali dalam khotbah yang beliau sampaikan di masjid Nabi, di hadapan para sahabat.
Dalam khotbah itu, Fatimah AS menjelaskan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dan masyarakat adalah dengan memegang teguh agama dan patuh kepada perintah Allah. Beliau yang mengetahui psikologi masyarakatnya menerangkan berbagai kekurangan yang ada di tengah mereka. Dalam khotbah itu, Fatimah AS membawakan berbagai ayat suci Al-Qur’an dan menjelaskan tafsirannya. Peristiwa yang terjadi di masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu yang layak dijadikan pelajaran dan bahan peringatan, diungkapkannya. Dalam khotbah tersebut Fatimah sebagai seorang hamba yang saleh dan arif yang hakiki, menjelaskan kecintaannya kepada Sang Maha Pencipta.
 Fatimah Zahra AS, adalah wanita yang mengenal betul kondisi di tengah masyarakat. Beliau sadar akan adanya makar dan tipu daya musuh-musuh Islam. Hal itulah yang kemudian beliau ungkapkan dalam khotbahnya. Singkatnya, Fatimah AS sebagai seorang yang mengetahui seluk beluk politik dan sadar akan kondisi di zamannya, menerangkan kepada semua orang bahwa Islam adalah agama terakhir Tuhan dan syariat yang paling sempurna. Beliau juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah dengan mengikuti jejak Ahlul Bait AS.
Berikut ini adalah sekelumit dari khotbah Sayyidah Fatimah Zahra AS di masjid Nabi. “Rasulullah diutus saat seluruh bangsa terpecah-pecah. Mereka menyembah berhala. Meski mengenal Tuhan, mereka mengingkarinya. Dengan perantara Muhammad, Allah menyingkap tabir syirik dan kekafiran. Dia membersihkan kotoran dari hati, dan Dia berikan cahaya di mata. Muhammad dengan cahaya petunjuk bangkit di tengah umat untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya benderang. Dia menggiring umat ke arah agama yang kuat dan mengajak mereka kepada kebenaran

Kisah Cinta Ali – Fatimah

Fatimah, adalah seorang perempuan yang sudah lama Ali kagumi.
Tapi sayang ternyata niat Ali telah didahului oleh Abu Bakar yang sudah duluan melamar Fatimah. Ali pun harus ikhlas bahwa cintanya selama ini berakhir pupus. Apalagi Abu Bakar adalah sahabat setia Rasul yang sangat sholeh dan begitu sayang kepada Rasul, dan rasul pun menyayangi beliau pula. Sedangkan Ali merasa dirinya hanyalah seorang pemuda yang miskin, sungguh jauh bila dibandingkan dengan orang seperti Abu Bakar pikirnya.
Rencana Allah memang sulit ditebak oleh manusia, ternyata Rasul hanya diam ketika Abu Bakar melamar putri beliau, yang maksudnya Rasul menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali pun senang, karena masih merasa memiliki kesempatan melamar Fatimah. Maka Ali pun bergegas ingin segera melamar Fatimah sebelum didahului lagi. Namun sungguh sayang sekali, lagi-lagi Ali terdahului lagi oleh Umar.
Lagi-lagi hati Ali tersayat, Ali sangat bersedih. Sama seperti dengan Abu Bakar, Ali merasa tak ada harapan lagi, lagi pula apakah cukup dengan cinta ia akan melamar Fatimah, karena ia hanyalah seorang pemuda biasa yang mengharapkan seorang putri Rasul yang luar biasa, berbeda bila dibandingkan dengan Umar seorang keturunan bangsawan yang gagah dan berkharisma, maka Ali pun hanya bisa bertawakal kepada Allah, semoga dikuatkan dengan derita cinta yang sedang dialaminya. Kali ini Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar menghadapi kenyataan itu.
Namun Ali adalah pemuda yang sholeh, ia pun yakin Allah Maha Adil, pasti Allah sudah mempersiapkan pendamping hidup baginya. Derita cinta memang menyakitkan. Disaat Ali merasakan derita cintanya, tak disangka-sangka datanglah Abu Bakar dengan senyum indahnya, dan memberitahu Ali untuk segera bertemu dengan Rasul karena ada yang ingin beliau sampaikan. Pikir Ali pasti ini tentang pernikahan Umar dengan Fatimah, sepertinya Rasul meminta Ali untuk membantu persiapan pernikahan mereka. Maka Ali pun menyemangati dirinya sendiri agar kuat dan tegar, walaupun sebenarnya hatinya sangat perih teriris-iris harus membantu mempersiapkan dan menyaksikan pujaan hatinya menikah dengan orang lain.
Sungguh rencana Allah memang yang paling indah, setelah Ali bertemu Rasul, tak disangka ternyata lamaran Umar bernasib sama dengan lamaran Abu Bakar, bahkan Rasul menginginkan Ali untuk menjadi suami Fatimah. Karena Rasul sudah lama tahu bahwa Ali telah lama memendam rasa cinta kepada putrinya. Ali pun sangat bahagia dan bersyukur, ia pun langsung melamar Fatimah melalui Rasul. Tapi Ali malu kepada Rasul karena ia tak memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar.
Namun sungguh mulia akhlak Rasul, beliau tidak membebankan Ali, Rasul berkata bahwa nikahilah Fatimah walaupun hanya bermahar cincin besi. Akhirnya Ali merelakan baju perangnya untuk melamar Fatimah, Rasul pun menerima lamaran itu, Fatimahpun mematuhi ayahnya serta siap menikah dengan Ali.
Akhirnya Ali pun menikah dengan Fatimah, perempuan yang telah lama ia cintai.
Sekarang Fatimah telah menjadi istri Ali, mereka telah halal satu sama lain. Beberapa saat setelah menikah dan siap melewati awal kehidupan bersama yaitu malam pertama yang indah hingga menjalani hari-hari selanjutnya bersama.
Fatimah : (berkata kepada Ali) “Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu, aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu…”.
Ali : “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatansuci pernikahanku denganmu.”.
Fatimah : (berkata dengan lembut) “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tanggakita…”.
Ali : “Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu…”.
Fatimah : “Wahai Ali suamiku, maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah…”
Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah.
Tapi Ali juga terkejut dan agak sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah, Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.
Namun Ali memang sungguh pemuda yang sangat baik hati, ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah, tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa agak bersalah jika hati Fatimah terluka, karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan didalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi disisi lain Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak, ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.
Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali suamiku sayang, Astagfirullah maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik cintaku, raja yang menguasai hatiku.”.
Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu. Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang…aku menantimu Ali…”.
Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu, kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku… Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti, aku bisa merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku…”.
Fatimah pun tersenyum mendengar kata-kata Ali, Ali diam sesaat sambil merenung, tak terasa mata Ali pun mulai keluar air mata, lalu dengan sangat tulus Ali berkata lagi, “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas, lagi pula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan, sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela…”.
Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika itu juga Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu,namun izinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”
Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu,“Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.”
Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya. Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali, Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah…”.
Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah?, sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”.
Fatimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali ini dengan dekapan yang mesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini, aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku, ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya…”
Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…”
Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…???”
Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”.
Ali lalu langsung berubah mimik wajahnya menjadi sangat bahagia, lalu membalas pelukan Fatimah dengan dekapan yang sangat mesra. Mereka masih agak malu-malu, saling bertatapan lalu tersenyum dan tertawa cekikikan karena tak habis pikir dengan ulah masing-masing. Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan indah dalam dekapan Mahabbah-Nya yang suci.
Subhanallah. Ali dan Fatimah pun menjalani rumah tangga mereka dengan suka maupun duka, Dan buah cinta dari pernikahan Ali dan Fatimah adalah putra kembar yang tampan bernama Hasan dan Husain, mereka berdua adalah anak yang sangat disayangi orangtuanya dan disayangi Rasul, kakek mereka. Juga disayangi keluarga Rasul yang lain tentunya. Mereka berdua nantinya juga menjadi tokoh dan pejuang Islam yang luar biasa.
Selama berumah tangga, Ali sangat setia dengan Fatimah, ia tak memadu Fatimah. Cintanya Ali memang untuk Fatimah, begitupun cinta Fatimah memang untuk Ali, mereka juga bersama-sama hidup mulia memperjuangkan Islam. Hingga hari itu pun tiba, semua yang hidup pasti akan kembali ke sisi-Nya. Ali, Hasan dan Husin dilanda kesedihan, Fatimah terlebih dahulu wafat, meninggalkan suami, anak-anak dan orang-orang yang mencintai dan dicintainya.
Itulah kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad, subhanallah, Allah memang Maha Adil, rencana dan skenario-Nya sangat indah. Ada beberapa hikmah darikisah cinta mereka.
Ketika Ali merasa belum siap untuk melangkah lebih jauh dengan Fatimah, maka cukup Ali mencintai Fatimah dengan diam. Karena diam adalah satu bukti cinta pada seseorang, diam memuliakan kesucian diri dan hati sendiri juga orang yang dicintai, sebab jika suatu cinta diungkapkan namun belum siap untuk mengikatnya dengan ikatan yang suci, bisa saja dalam interaksinya akan tergoda lalu terjerumus kedalam maksiat, Naudzubillah…
Biarlah cinta dalam diam menjadi hal indah yang bersemayam disudut hati dan menjadi rahasia antara hati sendiri dan Allah Sang Maha Penguasa Hati. Yakinlah Allah Maha Tahu para hamba yang menjaga hatinya, Allah juga telah mempersiapkan imbalan bagi para penjaga hati.
^_^ Wallahu’alam.

Cinta datang tanpa kata.
Cinta terjalin tanpa suara.
Lalu meraung dalam sukma.
Merusak logika.
Hanya diam untuk mencinta.
Menikmati setiap rasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar